Pages

Pemahaman tentang SEX



Kata sex di Indonesia sering kali bahkan selalu digunakan dalam konteks aktivitas yang bertalian dengan hubungan seksual. Hubungan seksual yang disebut juga intercourse, ialah kegiatan di mana terjadi penetrasi penis ke dalam vagina atau anus, di mana perlu dilakukan dengan selalu menggunakan alat pencegahan untuk menghindari kehamilan yang tak terencana atau pun berbagai macam penyakit.


Karena sex terutama diciptakan untuk tujuan reproduksi/memperoleh keturunan, banyak orang tua mengatakan bahwa sex adalah perbuatan sakral antara dua manusia yang telah menikah dan saling mencintai.
Pada kenyataannya, apa yang kita lihat sehari-hari di sekitar kita, di televisi, di layar lebar atau yang kita baca di buku atau di majalah, sering mengatakan sebaliknya, yaitu bahwa sex bisa dilakukan dengan mudah antara dua orang, tanpa beban, tanpa ikatan, sekedar untuk “mencari pengalaman” atau mencapai kepuasan sesaat; bahwa sex seringkali dapat dipakai sebagai alat untuk balas dendam, untuk mencapai suatu ambisi, atau untuk memperdaya orang lain dan bahkan sebagai sarana untuk mencari nafkah.

Karena istilah sex rancu, maka tak sedikit pasangan yang beranggapan bahwa berbagai macam kegiatan sex yang mereka lakukan bukanlah sex, padahal apa yang mereka lakukan juga bisa membahayakan kesehatan mereka, walaupun tidak berupa intercourse. Selain Vaginal Sex, Oral Sex dan Anal Sex adalah kegiatan sex yang bisa mengakibatkan penyakit IMS (Infeksi Menular Seksual) termasuk HIV. Maka jika kita melakukan kegitan tersebut, kita perlu memakai alat pengaman dari latex (latex barrier), seperti kondom atau dam (lembaran latex yang berbentuk segi empat) untuk menutupi daerah vagina atau anus. Jika dam tidak tersedia, kita bisa memakai pembungkus plastik yang melekat (plastic wrap) asalkan bukan jenis yang tahan microwave. Atau kita juga bisa pakai kondom yang non-spermicidal (kondom yang tidak mengandung spermicide atau senyawa kimia seperti nonoxynol-9 yang bertujuan mengurangi risiko tertular IMS termasuk HIV tetapi ternyata justru meningkatkan risiko tertular penyakit-penyakit itu karena sering menimbulkan iritasi kulit sehingga mempermudah penularan) atau sarung tangan dari latex yang digunting terbuka.

KEGIATAN SEX TIDAK AMAN

Selain Vaginal Sex, kedua kegiatan sex di bawah ini bisa menularkan penyakit kelamin yang disebut Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk HIV.

Oral Sex

Oral sex ialah kegiatan yang menstimulasi alat kelamin dengan menggunakan mulut, bibir, lidah, dengan perbuatan mencium, mengisap, menjilat atau menggigit (main-main). Banyak orang, terutama anak muda, menggap bahwa Oral Sex bukanlah sex dan oleh karenanya sering tidak melakukan tindakan pencegahan apapun jika melakukannya. Tapi kenyataannya, walaupun Oral Sex tidak bisa mengakibatkan kehamilan, kegiatan ini bisa mengakibatkan IMS, termasuk Human Papillomavirus (HPV), Herpes Simplex, Hetatitis B, Gonorrhea, Syphilis, Chlamydia dan HIV. Kemungkinan penularan ini lebih besar jika yang melakukan Oral Sex sedang seriawan atau ada luka di mulut.

Anal Sex

Anus adalah bagian tubuh kita yang rentan karena kulit di seputar anus bisa robek dengan mudah. Cairan tubuh, baik darah maupun air mani, dapat masuk ke dalam tubuh melalui celah-celah kecil di dalam anus, sehingga meningkatkan risiko tertular Hepatitis B dan C, berbagai IMS termasuk HIV.

KEGIATAN SEX LEBIH AMAN

Sebaliknya, Non-penetrative Sex adalah alternatif lebih aman jika kita ingin mencapai kepuasan seksual tanpa harus melakukan hubungan sex (intercourse).

Non-penetrative Sex, disebut juga Outercourse adalah kegiatan sex di mana penis tidak dimasukkan ke dalam vagina atau anus. Istilah ini biasanya dipakai untuk menggambarkan kegiatan saling masturbasi dan merupakan cara lebih aman yang juga dapat memberikan rasa kepuasan bagi yang melakukannya.
Non-penetrative sex juga bisa dilakukan, misalnya, dengan menggerakkan penis di antara ke dua paha wanita. Kegiatan ini disebut juga Interfemoral Sex.

Perlu diingat, jika kita berbicara soal “seksualitas”, seringkali kita menganggap bahwa kata itu hanya berhubungan dengan kegiatan sex. Padahal, kata “seksualitas” menggambarkan segala sesuatunya yang menjadikan kita sebagai makhluk seksual, yang mencakup pengetahuan kita, pikiran kita, nilai-nilai kita tentang sex dan perilaku kita.